Fakta Pertama
Palestina itu bukan hanya satu kepemimpinan. Sejak perang saudara 2007, Palestina terbagi dua pemimpin secara de facto: Tepi Barat dipimpin oleh Otoritas Palestina (PA, didominasi faksi Fatah) yang diakui PBB dan internasional, sedangkan Jalur Gaza dipimpin oleh faksi Hamas yang didukung Suriah, Iran dan Qatar. Fatah dan Hamas saling membenci antara satu sama lain.

Fakta Kedua
Perang yang sering terjadi antara Israel dan Palestina sejak 2007 sebenarnya adalah Israel vs Hamas atau Islamic Jihad yang menguasai Gaza.
Serangan udara Israel biasanya dipicu oleh tembakan roket-roket dari wilayah Gaza. Konflik yang terjadi di wilayah Tepi Barat biasanya terjadi di sekitar lokasi pemukiman Yahudi (Area C) adalah protes oleh warga Palestina yang memprotes kompleks Yahudi dan direspons dengan keras oleh aparat Israel. Jadi sebenarnya tidak bisa dikatakan 'perang'.
Fakta ketiga
Bagi pemerintah Palestina, Palestina tidak identik dengan Islam.
Banyak orang Arab Palestina yang beragama Kristen, yang juga punya sikap yang sama terhadap pendudukan Israel. Salah satu pemimpin faksi perlawanan Palestina PFLP bernama George Habash beragama Kristen. Menurut Wikipedia, 2.5% orang Palestina di Tepi Barat beragama Kristen yang tergabung dalam denominasi Orthodoks Timur, Orthodoks Oriental, Katolik, dll.
Fakta Keempat
Arab Saudi tidak mendukung Hamas.
Arab Saudi menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris, yang berarti juga Hamas (yang juga berideologi IM) termasuk dalam daftar itu. Pemerintah Saudi mendukung PA dan adalah salah satu kontribusi dana operasional terbesar bagi PA, selain US dan EU.
Fakta Kelima
Hamas mendapatkan bantuan dana, pelatihan dan persenjataan dari pemerintahan Suriah (yang didominasi penganut Alawiyah) dan Iran (yang beragama Syiah).
Ini jadi problematik kalo anggapan orang Indonesia simplistik agama semacam: Palestina = muslim vs Yahudi Zionis vs Syiah laknatullah.
Pemimpin Hamas Khaled Meshal dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei
Fakta Keenam
Ada banyak warga Israel yang beretnis Arab, mereka disebut dalam bahasa Inggris sebagai Arab Israeli.
Mereka semua mendapat fasilitas sosial yang sama dengan warga Yahudi, bebas beragama dan mendirikan mesjid, membangun sekolah-sekolah menggunakan bahasa Arab. Mereka bahkan punya hak politik: bisa memilih dalam pemilu, membuat partai dan ikut pemilu. Ada beberapa politikus Arab di Knesset (parlemen Israel). Satu hal yang berbeda adalah, warga Arab tidak wajib ikut wamil. Walau begitu, ada beberapa klan Beduin (muslim) yang sudah tradisi turun temurun berprofesi di IDF (militer Israel).
Mesjid el-Jazzar di Acre, Israel
Presenter Arab Israel populer Lucy Aharish
Menteri Avigdor Lieberman mengunjungi kesatuan Bedouin IDF
CATATAN: Tentu walau penjabaran di atas memperlihatkan bahwa secara resmi negara Israel tidak mendiskriminasi warga etnis Arab, secara sosial dan politik mereka sering mengalami diskriminasi atau merasa seperti warga negara kelas dua. Tapi hidup mereka jelas lebih baik daripada warga Palestina di Tepi Barat, apalagi di Gaza.
Fakta Ketujuh
Tidak semua orang Yahudi pro Zionis (khususnya di negara lain).
George Soros adalah salah satu warga AS keturunan Yahudi yang kritis terhadap pemerintah Israel.
Fakta Kedelapan
Kepedulian terbesar bangsa Israel bukan bagaimana menguasai dunia, tapi bagaimana memastikan negara Israel aman.
Untuk itu mereka menggunakan lobi-lobi politik di Washington DC (dengan organisasi seperti AIPAC) untuk memastikan kebijakan-kebijakan AS pro Israel. Israel tidak pernah berminat menaklukkan negara-negara Timur Tengah lain. Warga Yahudi Israel yang ekstrim sayap kanan ingin supaya Gaza dan Tepi Barat jadi milik Israel, tapi tidak lebih dari itu.
Penulis Asli; Rufus Panjaitan.
Comments
Post a Comment