Temuan BJ Habiebie

BJ Habibie , nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie , (kelahiran 25 Juni 1936, Parepare, Indonesia-meninggal September 11, 2019, Jakarta), seorang insinyur pesawat terbang sekaligus mantan wakil presiden dari Indonesia (1998-1999) dan pernah menjadi seorang pemimpin presidenm di negara Indonesia sekaligus pengembang teknologi dan ekonomi di akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.
Cemerlang dalam sains dan matematika sejak masa kanak-kanak, Habibie menerima pendidikan pasca-sekolah menengah di Institut Teknologi Bandung di Bandung , Indonesia, dan melanjutkan studinya di Institut Teknologi Rhine-Westphalia Utara di Aachen , Jerman Barat . Setelah lulus pada tahun 1960, ia tetap di Jerman Barat sebagai peneliti aeronautika dan pengawas produksi.¹
BJ Habibie memiliki ciptaan teori bernama crack progression.
Hal itulah yang membuat dirinya mendapatkan julukan Mr Crack.
Habibie kemudian mengembangkan teori perambatan retak , memberinya nama 'Tn. Crack 'dari rekan internasionalnya. Melalui teorinya, titik retak dapat diprediksi lebih awal, menghasilkan pesawat yang lebih aman, mengurangi risiko kegagalan mendadak, dan membuat perawatannya lebih murah dan mudah. Dengan titik retak tertentu, konstruksi pesawat juga menjadi lebih cepat karena pengujian fatik dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat.
Insinyur biasa mengatasi kemungkinan retak dengan menaikkan faktor keamanan (SF). Artinya, menggunakan material yang lebih berat untuk bodi pesawat, menggunakan aluminium dan paduan baja.
Titik retak akan terus bercabang dan menyebar dari hari ke hari di dalam struktur. Jika tidak terdeteksi, sayap bisa patah dan patah saat lepas landas. Saat itu masih sulit untuk mengenali kelelahan ini lebih awal karena tidak ada pemindai laser atau sensor untuk mengatasi masalah krusial ini. Risiko kelelahan semakin besar karena industri penerbangan beralih dari penggunaan baling-baling ke jet.
Setelah titik retak dapat ditentukan, SF dapat dikurangi dan pesawat dapat menggunakan material yang lebih ringan. Inilah yang disebut Faktor Habibie, yang dapat mengurangi berat kosong operasi pesawat hingga 10%. Namun, ini tidak mengurangi bobot lepas landas maksimum. Oleh karena itu, Faktor Habibie membantu pesawat terbang lebih berat dan terbang lebih jauh.²
Dalam teori itu BJ Habibie berhasil merumuskan secara detil perhitungan presisi hingga tingkat atom.
Teori penjelasan tentang sayap pesawat rapuh, kelelahan pada pesawat dapat dipecahkan dengan mengurangi resiko kecelakaan.
Selain itu juga membuat proses perawatan lebih mudah.
Penerapan teori Mr Crack ini juga membuat sistem pesawat lebih kompleks.
Berat pesawat bisa berkurang hingga 10 persen hingga 25 persen, berkat pula material kompsit buatannya.
Pesawat lebih bisa bermanuver, lebih mudah lepas landas hingga menghemat bahan bakar.
Terori Mr Crack ini menjadi tolak ukur utama dunia penerbangan.
Teori crack progression milik BJ Habibie inilah menjadi solusi di dunia penerbangan. Teori ini sangat berarti untuk meningkatkan standar keamanan pada pesawat.
Comments
Post a Comment